19 Feb
Teknologi diciptakan memang untuk memudahkan aktivitas kita. Namun tak jarang, teknologi malah merepotkan hingga buat kita bingung dan kesal. Inilah rahasia teknologi di sekitar kita yang wajib diingat…
Dalyanta Sembiring
1. Tarian toilet
Setiap memasuki toliet pria di tempat publik, seperti mal, bioskop atau rumah sakit, anda (pria nii) mungkin sering melihat aksi ‘tarian toilet’. Dalam posisi berdiri dan belum merapikan celana, para pria menggoyangkan badannya ke kiri dan kanan di depan urinoar.
“Ini karena air dari urinoar hanya keluar setelah kita meminggirkan badan dari depan sensor,” kata Eka Rahadi, karyawan swasta. Ada dua tipe urinoar yang sering dijumpai di tempat publik, yaitu manual dan sensor. Tipe manual biasanya memaksa pengguna memencet tombol untuk mengeluarkan flush atau guyuran air. Pada tipe sensor yang mengurangi peran sentuhan tangan, sensor infra merah di atas urinoar akan mendeteksi keberadaan anda, dan sistem langsung mengeluarkan air. Lalu anda dapat mulai membuang air seni. Setelah selesai, sensor infra merah harus mendeteksi bahwa anda telah berlalu agar sistem mengguyur urinoar. Masalahnya, tidak semua urinoar memudahkan kaum adam melakukan ritual ‘bersih-bersih’ setelah membuang urin. Pengguna yang ingin ‘bersih-bersih’, hanya dapat melakukannya pada urinoar tipe standar. Model ini juga menyediakan saluran air kecil yang menonjol keluar sehingga memudahkan pembersihan. Sayang, urinoar tipe sensor jarang dilengkapi saluran kecil tersebut. Akibatnya, banyak pengguna yang kebingungan saat mendapati urinoar tipe sensor.
Wah..wah..mau pipis aja susah yaa…^^
Anti-Gaptek :
Menurut Nurman Sumantri, marketing supervisor di Toto Indonesia, perusahaan saniter, urinoar yang memiliki saluran kecil yang menonjol keluar, biasa disebut tipe muslim. “Tapi saat ini memang jarang ditemukan urinoar bersensor di tempat publik yang dilengkapi outlet atau saluran kecil yang menonjol keluar ini,”ungkapnya. Keputusan penggunaan tipe urinoar memang ditentukan pihak manajemen gedung. Jadi, jika anda keberatan dengan model urinoar pada gedung tempat anda bekerja atau tempat publik, cobalah ajukan surat saran agar mereka menyediakan urinoar dengan saluran kecil tersebut. Nurman memberikan tip, “Jika ingin memastikan air keluar dari urinoar bersensor, rapatkan tangan ke sensor itu agak lama. Hal ini tidak berlaku pada semua sensor, tapi dapat dicoba.” Pada tipe tertentu, ada pula toilet bersensor yang menyembunyikan tombol kecil di bagian bawah sensor. Dengan menekan tombol ini, air akan mengguyur urinoar.
2. Tombol lift raib
Rahman Rayadi, desainer grafis terburu-buru memasuki sebuah gedung menjulang di pusat kota. Hari ini ia harus mengikuti wawancara kerja dengan sebuah perusahaan yang menghuni lantai 27. Rahman segera masuk lift begitu pintunya terbuka. Sesampainya di dalam, ia terkejut karena tidak menemukan tombol-tombol lantai seperti lift pada umumnya. Tampaknya semua orang di dalam lift sudah biasa dengan hal itu. Rahman hanya pasrah karena lift tak berhenti di lantai 27. Setelah ‘mengantarkan’ semua penumpang lift ke lantai yang mereka tuju, Rahman kembali mendarat di lantai dasar. Karena malu ketahuan gaptek alias gagap teknologi, dia mengeluarkan ponsel, dan pura-pura mengetik SMS. Padahal, ia sedang mempelajari situasi dengan melihat perilaku para pengguna lift di lobi. Dilhatnya, sebelum memasuki lift, mereka menekan panel layar sentuh di pojok lobi yang berisi angka-angka setiap lantai. Panel itulah yang mengarahkan mereka menuju salah satu lift yang bisa ditumpangi.
Anti-Gaptek
“Lift itu dilengkapi sistem Destination Selection Control,” kata Freddy Marbun, service manager di ThyssenKrupp Elevator Indonesia, perusahaan kontraktor lift dan eskalator. Pada lift konvensional, anda hanya bisa memilih arah naik dan turun saat hendak menggunakan lift, lalu pilih lantai tujuan di dalam lift. Pada lift dengan sistem DSC, anda langsung memilih lantai tujuan dari luar lift dengan menekan lantai tujuan pada panel. Kemudian panel akan mengarahkan anda menuju salah satu lift yang dapat digunakan, misalnya lift 1. Setelah lift 1 datang, anda dapat masuk dan hanya menekan tombol Close, Open atau Emergency Call jika diperlukan. Sistem DSC diyakini dapat mengurangi waktu tunggu penumpang, sekaligus mengurangi konsumsi energi listrik pada lift.
3. Eskalator mati
Samuel Gunawan geleng-geleng kepala. “Hotel bintang lima,tapi kok dua eskalatornya mati semua,” katanya setengah tak percaya. Di antara eskalator terdapat tangga biasa yang berukuran lebih luas. “Daripada naik eskalator yang mati, lebih baik saya naik tangga saja sambil menenteng satu tas yang tidak terlalu besar,” kenangnya. Baru menginjak anak tangga yang ketujuh, ia dikejutkan pemandangan aneh. Eskalator arah naik telah berfungsi. Dilihatnya tiga orang tamu hotel sedang menaiki eskalator itu. Tak lama, dia melihat seorang pria sedang bergerak turun di atas eskalator di sampingnya. “Saya jadi malu, karena saya mengangkat tas di tangga biasa, sementara eskalator di samping saya berfungsi baik,” katanya.
Anti-Gaptek
“Eskalator tersebut menggunakan Auto Start System. Ada juga yang menyebutnya Stop and Go system,” kata Freddy Marbun. Berbeda dengan eskalator konvensional yang selalu bergerak, eskalator ini hanya bergerak ketika sensor - menyerupai sinar infra merah - terhalang penumpang yang akan naik. Beberapa detik setelah penumpang terakhir berlalu, ‘tangga jalan’ akan berhenti. Tujuan utama dari sistem ini adalah penghematan energi dan memperlama usia komponen bergerak pada eskalator.
Hihi..jadi inget kejadian dulu pas q ma onet ke ITC, Surabaya. Eskalatornya menggunakan sistem ini, kita kaget kok mati ya? Setelah lihat tulisan di badan eskalator “Automatic System”, baru dong dah..ternyata nggak mati..^^
Leave a reply