Ibuku mempunyai resep cinta yang sederhana

Semua berawal di Sabtu sore yang sepi. Aku sedang duduk di depan komputer, memandang layar yang kosong, seperti pikiranku saat itu. Aku berharap menemukan ide cemerlang untuk esai sepanjang seribu kata yang akan kubuat, ketika…

“JINHANG!Sudah berapa kali ibu bilang, jangan duduk di depan komputer terlalu lama. Kasihan matamu. Pergi dan istirahat!” Teriak ibuku yang sedang berada di dapur dengan suara melengking.

Dengan kesal, aku berdiri dan berjalan ke dapur. Betul saja, seperti yang sudah kuduga, Ibu sedang membuat pangsit. Pangsit-pangsit itu ia jajarkan dengan rapi di atas kertas aluminium, menyerupai perahu-perahu mungil berwarna putih yang siap berlayar. Aku duduk di sebelah Ibu dan mengambil selembar kulit pangsit. Kulihat titik-titik keringat mulai membentuk di dahi Ibu.

“Nah, begitu dong,” ujar Ibu sambil tersenyum. “Lakukan sesuatu yang berguna selain duduk di depan komputer seharian.”

Aku hanya diam saja. Sebenarnya aku ingin membantah ucapannya, tapi kuurungkan niat itu karena membantah Ibu bisa menimbulkan masalah. Sebagai gantinya, aku mulai mengisi kulit pangsit dengan adonan daging buatan Ibu dan menutupnya dengan mencubit sekenanya ujung-ujung kulit pangsit itu. Setelah menyelesaikan sekitar 10 buah, aku memperhatikan bentuk pangsit-pangsit buatanku yang tak seindah buatan Ibu.

“Bentuknya aneh ya, Bu?” tanyaku sambil bercanda. “Malah lebih mirip donat daripada pangsit.”

“Biarpun seperti donat, yang penting tetap pangsit,” Ibu menjawab dengan serius. “Semua itu adalah pangsitmu, dan kau harus bangga.”

Karena terlalu kaget mendengar komentarnya, aku tak sengaja mencubit ujung kulit pangsitku terlalu keras. Sekarang pangsitku berlubang di tengah, betul-betul mirip donat. Dengan kesal aku berjalan menuju keranjang sampah.

“Jangan dibuang. Bentuknya memang tidak secantik yang lain, tapi rasanya tetap enak,kok,” ujar Ibu sambil menatapku tajam.

Aku kembali duduk dengan kesal sambil memegang pangsitku yang rusak. Meskipun aku meneruskan pekerjaanku membantuk Ibu, mataku tetap tertuju pada pangsit ‘donat’ itu. Saat melirik ke Ibu, aku baru menyadari ia telah berhenti membuat pangsit. Matanya berkaca-kaca dan ekspresinya tidak seperti biasanya.

“Kamu ingat waktu kau masih kecil?” suaranya terdengar melembut - seperti sedang bermimpi. “Kau selalu batuk, demam, selalu sakit-sakitan, membuat Ibu dan Ayah cemas.”

Aku tersenyum. Ibu sering bercerita tentang masa kecilku. Aku lebih lemah dari anak-anak lain seumurku, dan daya tahan tubuhku yang lemah membuat kedua orang tuaku luar biasa khawatir.

Ibu sepertinya terhanyut dalam lamunan. “Di sekolah, kau selalu diganggu karena sifatmu yang pendiam. Anak-anak yang lebih tua mencubitmu, menendangmu, bahkan mengambil barang-barangmu, tapi kau tak pernah punya keberanian untuk membalas mereka.”

Aku hanya tersenyum kecut. Aku ingat pernah membawa mainan singa favoritku ke TK. Teman-teman sekelas mengerubungiku dan mengagumi mainanku itu. Aku gembira mendapat perhatian dari mereka. Tapi di akhir pelajaran, seorang gadis bertubuh tinggi besar merebut mainan itu dan mengaku itu miliknya. Ketika akhirnya aku menceritakan kejadian itu kepada Ibu beberapa hari kemudian, aku berharap ia akan menghiburku. Tapi sebaliknya, ia justru mengomeliku.

Seolah bisa membaca pikiranku, Ibu pun melanjutkan ucapannya. “Kau tahu kenapa Ibu memarahimu waktu itu? Bukan karena kau berbuat salah. Ibu dan Ayah tahu tubuhmu lemah. Tapi kau harus belajar untuk membela dirimu sendiri.”

Baru pada saat itu, di dapur bersama Ibu, aku memahami maksud beliau. Selama bertahun-tahun, aku selalu merasa Ibu mengomeliku karena aku tak berguna dan tidak bisa melindungi barang-barang milikku. Sekarang aku sadar, Ibu mengomel karena beliau ingin aku mampu membela diriku sendiri. Beliau ingin aku bahagia.

“Sekarang perhatikan adonan ini,” ujar ibu sambil menunjuk mangkuk adonan kulit pangsit. “Itu Ibu yang dulu. Lalu Ibu mengorbankan sebagian dari diri Ibu untukmu.” Ia mencubit sedikit adonan dan menggilingnya hingga tipis. menyerupai bulan purnama.

“Lihat baik-baik kulit pangsit ini.” Ibu mengangkat lembaran tipis itu. Kulit pangsit itu melekat dengan baik, mengikuti bentuk telapak tangannya. “Ini kau ketika baru lahir, ringkih dan rapuh seperti kulit pangsit ini. Ketika itu, satu tekanan saja bisa membekas di dirimu.”

Ibu lalu menyendok adonan isi dan meletakkannya di tengah-tengah kulit pangsit. “Lalu Ayah dan Ibu mulai menambahkan isinya:wortel, sayur-sayuran, jamur - semua yang sehat dan bergizi. Kami mengajarkanmu nilai-nilai, memberi pengertian yang baik dan yang salah, membekalimu dengan berbagai ketrampilan yang kau butuhkan.” Singa mainanku dulu.

“Dan sebagai sentuhan akhir, kamu menutup hadiah dari Tuhan ini - dengan cinta.”

Ia pun mencubit dan menutup ujung-ujung kulit pangsit itu.-

Oleh Wen Jinhang, 14, adalah murid Raffles Girls’ School di Singapura.

FriendsterSkins.Net