27 Feb

Ada seorang pegawai negeri yang saleh pulang kerja lembur pada akhir bulan. Sementara pulang, dalam keadaan perut lapar sehabis lembur, dia berpikir alangkah enaknya kalau sampai di rumah nanti makan nasi panas dengan lauknya yang dibuat isteri tercintanya. Setelah sampai rumah dia disambut isterinya lalu cuci tangan dan minta disediakan makan. Isterinya menyampaikan bahwa makanan yang ada tinggal nasi dan hanya sedikit sayur bayam tanpa lauk. Sebagai orang yang saleh si pegawai negeri bersyukur karena menyadari bahwa setiap akhir bulan uang pasti sudah habis sehingga bisa makan pun sudah syukur.
Tiba-tiba dia punya ide alangkah nikmatnya kalau sore itu makan dengan sate ayam yang ada di dekat rumahnya karena sehabis lembur dia dapat uang transport yang bisa dipakai jajan sate ayam. Namun dia berpikir alangkah egoisnya kalau dia makan sate sendirian dan isterinya tidak. Dan besok mereka harus makan apa kalau uangnya dipakai jajan sate. Makan sate berdua dengan uang transport yang didapat barusan tidak cukup. Sebagai orang yang saleh dia memutuskan untuk memberikan uangnya kepada isterinya untuk membeli lauk pauk untuk besoknya. Tapi sore ini lauknya tidak ada. Maka pikirnya mungkin nikmat juga kalau dia makan nasi panas di dekat penjual sate sebab jika bisa mencium baunya saja rasanya sudah seperti makan sate sungguhan. Maka berangkatlah dia sambil bawa nasi sendiri ke dekat tukang sate. Tentu dia cari posisi duduk dimana angin bertiup. Maka makanlah si pegawai negeri itu dengan lahap sambil tersenyum, rupanya nikmat juga walaupun hanya mencium bau sate.
Lalu selesailah sudah makannya dan perut sudah kenyang tetapi alangkah terkejutnya ketika mau pulang dia ditagih penjual sate untuk membayar. Dia berdalih bahwa dia tidak makan satenya. Jawab tukang sate ngotot bahwa kalau tidak ada bau sate yang dia bikin tentu tidak bisa makan dengan lahap. Lanjutnya bahwa dia duduk dekat tempat jualan sate memang dengan sengaja mau mencium aroma sate sebagai lauk makannya. Tukang sate tetap menuntut bayaran atas aroma sate itu.
Bingunglah si pegawai negeri ini atas tuntutan si penjual sate karena tidak punya uang sama sekali. Ketika tanya berapa harus bayar maka tukang sate menjawab kalau nasi sate 5 ribu rupiah maka untuk mencium dengan sengaja aroma sate cukup seribu saja. Cukup fair juga tukang sate itu. Sementara berdebat kebetulan datanglah ketua RT setempat, orang tua yang dikenal bijaksana, ke tempat itu untuk membeli sate. Maka mengadulah mereka masing-masing dengan argumentasinya kepada orang tua bijaksana ini. Mereka berjanji apa saja yang diputuskan orang tua ini akan mereka turuti karena mereka tahu pasti akan ada jalan keluar. Pikir tukang sate pastilah dia akan dibayar tetapi pikir si pegawai negeri pastilah tidak akan disuruh membayar karena memang tidak pernah merasakan sate kecuali aromanya saja.
Terjadilah suasana hening menunggu keputusan. Lalu orang tua itu berkata bahwa si pegawai negeri memang harus membayar karena dengan sengaja telah mencium aroma sate dengan tujuan sebagai lauknya meskipun hanya dalam bayangannya. Maka terkejutlah si pegawai negeri dan tersenyumlah si tukang sate atas keputusan itu. Si pegawai negeri terhenyak berpikir bagaimana dia harus membayarnya karena tidak punya uang. Mendadak orang tua bijaksana itu merogoh kantongnya dan mengeluarkan uang recehan seratusan dan dua ratusan dari kantong celananya dan mulai menghitung seratus, dua ratus, lima ratus, cring.. cring.. cring… sampai genap seribu rupiah.
Lalu katanya kepada si penjual sate, “Apakah anda melihat uang yang saya hitung jumlahnya seribu?”
Jawab si tukang sate, “Benar”.
Orang tua itu juga bertanya, “Apakah anda juga mendengar gemerincing uang yang saya hitung?”
Jawab si tukang sate itu pula, “Benar”.
“Baiklah kalau begitu”, kata orang tua bijaksana kepada kedua orang yang bersengketa, “Persoalan ini telah selesai!”.
Terkejutlah si tukang sate bagaimana akhirnya bisa begini. Orang tua itu menjelaskan, “Yang satu dituntut membayar karena telah mencium aroma sate dan yang lain tentu juga harus puas telah dibayar setelah melihat dan mendengar gemericingnya uang seribu rupiah, karena yang satu hanya dapat ‘makan sate’ dalam bayangannya maka cukuplah adil yang lainya juga dibayar dengan ‘melihat dan mendengar’ uangnya saja..”
Silakan dimaknai sendiri.. ^^ *btw, q jadi pengen makan satee.. 
10 Responses for "PNS makan sate ayam"
Pesannya apa nih Mo?
*think think…
Yang ‘makan sate’ si pegawai negeri, tapi yang ‘bayar’ Pak RT. Intinya ‘ditraktir itu nikmat….
Hans’s last blog post..Weird and Creepy
hihihihi…apa yaaa… diartiin sendiri2 deh ^^ kalo q mikirnya jd orang jgn tralu perhitungan.. ^^
wahhwahh… gue sih ga tertarik sama tulisannya tapi sama sate nya tuhh!! wkakakakakk
gambar satenya mengoda hahahaha…
maknana bagus juga tuh! cukup adil
Pitshu’s last blog post..Pemenang Quiz
@leviosa: wingardium leviosaaa!
thanks da mampir dan komen.. kalo tertarik sama satenya doank, belii dunk
@pitshu: iyaa..jadi laper nii.. hihihi
yup,aroma sate dibayar dengan bunyi uang..
wahh..tak sabar liat sapa yang menang!!!
udah pernah denger cerita kek gini,, tapi pak RTnya ga ikutan^^ ehehe..
gambar satenya menggiurkan nih.. jadi pengen..
zao’s last blog post..tugas adbis,, dilemma..
udah yaa zao..ini q juga dikasih temen ^^
wah!jadi ikutan juga pengen makan satee.. ^^
Wah masa pns beli lauk ikan saja ga bisa…
Ayah ibu saya jg pns, tp dr dulu sebisa mungkin ngasih makan kita ada lauk pauknya. kekekek…
Zee’s last blog post..BloggerWave : alternative for ppp
wahahaha..pns nya ini hidupnya boros, makanya pas mau makan susyah!
*maksa
jalan keluar yang bijaksana…
mZ.anGgIe’s last blog post..Trilogi: DAUN-ANGIN-POHON
Leave a reply