Setelah mencicipi semangka matang yang dalamnya berwarna merah tua dan murah harganya, Parno memutuskan untuk membeli sebuah. Matroji, si penjual semangka, mengikat buah itu dengan tali rafia, lalu menggantungkannya di sepeda motor Parno. Baru 300 meter berjalan, semangka tersebut terlepas dari ikatannya, jatuh ke aspal, dan pecah. Betapa murkanya Parno mendapati isi semangka yang dibelinya ternyata berwarna merah pucat. Parno pun kembali menemui Matroji. “Sampeyan mau menipu, ya? Lihat semangka ini. Warnanya merah pucat,”omel Parno pada Matroji. Matroji memandang sejenak ke Semangka yang dibawa Parno, lalu dengan kalem menjawab, “Sampeyan ini sombong sekali. Coba istri sampeyan yang jatuh dari boncengan motor. Apa ndak pucat?Orang aja pucat apalagi semangka.”

Seorang pembicara tamu di suatu acara pertunangan datang terlambat dan segera menempati tempat duduknya. Baru beberapa waktu kemudian dia menyadari bahwa dia lupa membawa gigi palsunya. Dia menceritakan keadaan tersebut kepada seorang pria yang duduk di sampingnya. “Nggak masalah,”ujar pria tersebut, sambil merogoh kantungnya dan mengambil sepasang gigi palsu.”Coba ini,”ujarnya. “Terlalu longgar”, jawab si pembicara. Pria itu kemudian mengambil yang lain.”Terlalu rapat,” ujar pembicara itu kembali. “Aku masih punya sepasang lagi.” Pembicara mencoba gigi palsu pemberian pria itu dan berkata, “ini baru pas”. Dengan gigi palsu itu, pembicara tersebut menikmati makan malamnya dan berpidato. Saat jamuan selesai, pembicara menghampiri pria itu untuk mengucapkan terima kasih atas bantuannya. “Dimana kantor anda?” tanyanya.”Aku mencari dokter gigi.” Pria itu menjawab, “Aku bukan dokter gigi.Aku pengurus kuburan.”

-Humoria-